Jakarta (KABARIN) - Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, S.Psi, M.Psi, Psikolog menyampaikan bahwa perasaan rindu Tanah Suci sepulang menunaikan ibadah haji bisa diubah menjadi energi psikologis yang konstruktif untuk mempertahankan peningkatan kondisi spiritual yang terjadi selama berhaji.
"Dari perspektif bio-neuropsikologi, tujuan utamanya bukan menghilangkan kerinduan, tetapi mengubah kerinduan menjadi energi psikologis yang konstruktif," katanya ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta pada Selasa.
Ia mengatakan bahwa otak menyukai konsistensi. Jadi, kebiasaan-kebiasaan baik yang terbangun selama menunaikan ibadah haji di Tanah Suci di Arab Saudi sebaiknya dilanjutkan setelah kembali ke Tanah Air.
Kebiasaan shalat wajib tepat waktu serta rutinitas membaca Alquran, berzikir, shalat sunnah, dan shalat malam selama menunaikan ibadah haji di Tanah Suci disarankan dipertahankan setelah pulang.
"Ini membantu otak mempertahankan 'jejak spiritual' yang sudah terbentuk," kata Efnie, PR Asosiasi Neuropsikologi Indonesia - Himpunan Psikologi Indonesia.
Dia menyampaikan bahwa kerinduan yang muncul biasanya tidak hanya berkaitan dengan tempat, tetapi juga perasaan dekat dengan Tuhan selama menunaikan ibadah di Tanah Suci.
Efnie mengemukakan bahwa menceritakan pengalaman melaksanakan ibadah haji dan umrah dapat membantu proses integrasi memori emosional di otak agar kenangan bisa menghadirkan inspirasi untuk melakukan perbaikan.
Menurut dia, bergabung dengan komunitas pengajian atau majelis ilmu juga bisa menjadi jalan untuk menghadapi sindrom pasca-haji.
Lingkungan sosial yang mendukung nilai-nilai spiritual dapat membantu mempertahankan keseimbangan psikologis sepulang berhaji.
"Syukuri perubahan positif yang sudah terjadi, alih-alih terus memikirkan apa yang telah ditinggalkan, fokus lah pada pelajaran yang didapat, perubahan diri yang terjadi, dan bagaimana pengalaman tersebut dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari," kata Efnie.
Efnie menyebut kerinduan pada Tanah Suci sepulang berhaji sebagai perasaan yang normal dan wajar, bahkan sehat secara psikologis maupun spiritual.
"Kondisi ini masih tergolong wajar apabila kerinduan justru memotivasi untuk meningkatkan ibadah dan akhlak, perasaan rindu muncul sesekali tanpa mengganggu fungsi hidup," katanya.
Sindrom pasca-haji, menurut dia, masih bisa dikatakan normal kalau yang bersangkutan tetap bisa menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk bekerja dan melakukan interaksi sosial, sebagaimana biasa.
Namun, ia melanjutkan, kalau kondisi psikologis yang muncul setelah berhaji sampai berlarut-larut maka ada kemungkinan yang bersangkutan mengalami masalah lain dan membutuhkan bantuan dari profesional untuk mengatasinya.
Bantuan dari profesional dibutuhkan kalau perasaan rindu yang muncul sepulang berhaji sampai menimbulkan kesedihan yang berlarut-larut serta membuat yang bersangkutan kehilangan minat pada aktivitas sehari-hari, mengalami gangguan tidur berat, serta mengalami gejala depresi atau gangguan kecemasan.
Kalau kondisinya demikian, Efnie mengatakan, maka evaluasi perlu dilakukan untuk mengetahui kemungkinan orang yang bersangkutan mengalami masalah psikologis lain yang penanganannya membutuhkan bantuan tenaga profesional.
"Dalam kondisi tersebut, perlu dievaluasi apakah yang terjadi bukan sekadar kerinduan spiritual," kata Efnie, yang bekerja sebagai dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026